Beranda > Artikel, Artikel Islami, Free Download, informasi, Jurnal Hukum > Sebuah pertanyaan dalam hati

Sebuah pertanyaan dalam hati

Kadang aku merenung dan bertanya2 dalam hati, masih adakah tempat di syurga untuk umat yg hidup saat ini?… Bila membandingkan sosok umat dahulu dengan yg ada saat ini, rasanya
sudah tidak ada lagi tempat di syurga untuk umat saat ini, kecuali atas
kemurahan dan kasih sayang Allah kepada kita saat ini. Di zaman Rasulullah dan
para sahabat hidup, tumbuh rasa kecintaan yg besar di hati mereka terhadap
ajaran Islam dan sosok Rasulullah, hingga salah seorang sahabat rela dihukum
gantung dan disalib, ketimbang harus menyerahkan kebebasan dirinya dan
membiarkan Rasulullah terluka walaupun hanya tertusuk duri. Tapi lihat keadaan
saat ini, yg masih mengaku seorang muslim, membiarkan ajaran Islam di
injak-injak dan dilecehkan dan membiarkan Rasulullah di hujat oleh para musuh
islam, bahkan beramai2 ikut menginjak2 ajaran islam dan ikut melecehkan dan
menghujat Rasulullah.

Dulu Abu Bakar rela digigit ular kakinya ketimbang gerak tubuhnya memungkinkan akan terbangunnya Rasul dari tidurnya, namun lihat keadaan saat ini? Banyak muslim yg tidak
bergeming hati apalagi jasadnya, melihat ajaran Rasulullah yg dulu
diperjuangkan dengan darah dan air mata, sedangkan saat ini jangankan sunnah
Rasul yg harus dipegang teguh apalagi diperjuangkan, firman2 Allah saja sudah
berani ada yg menginjak2 dan mempertentangkan perintahNya.

Hmm..kadang aku perhatikan tingkah orang2 sekitar, yg seolah2 hidup akan selamanya di dunia, tanpa memikirkan tempat kembalinya kelak di akhirat. Kalau kita Tanya
kebanyakan orang saat ini, siapa Muhammad itu? Dan hanya menjawab bahwa
Muhammad itu Rasulullah, nabi terakhir, nabi umat Islam, hanya sebatas itu
tanpa mengenal pribadinya dan apa saja yg sudah dilakukannya dan
diperjuangkannya. Jika melihat keadaan saat ini, bagaimana mungkin menumbuhkan
rasa cinta dihati dan timbul perasaan dekat hingga ada perasaan tidak rela bila
mendengar dan melihat ajaran islam warisannya dihina dan diinjak2.

Ada rasa takut di hati saat membaca sabda Rasulullah tentang Abdurrahman bin Auf yg memasuki syurga dengan merangkak, lha..kita akan masuk syurga dengan cara apa
lagi??Astagfirullah.. bila melihat keadaan saat ini, rasanya sulit sekali untuk
memasuki syurga walaupun dgn cara merayap sekalipun. Aku membaca biografi para
sahabat dan salah satunya Abdurrahman bin Auf yg pernah mengerahkan
iring-iringan 700 onta dengan penuh isi kebutuhan umat dan akan diserahkan
kepada masyarakat di Mekah, hingga menimbulkan keramaian di kota Mekah saat
itu. Abdurrahman bin Auf pun mengikuti banyak peperangan dengan Rasulullah dan
para sahabat yg lain, tapi ternyata belum cukup amalnya untuk memasuki syurga
hingga harus merangkak. Sedangkan kita??apa yg sudah kita lakukan hingga kita
bisa masuk syurga walaupun dengan cara merayap sekalipun rasanya jadi mustahil
bila tidak dengan Rahmat dan kasih sayang Allah yang Maha Rahman dan Rahim.

Jangankan memberikan harta yg begitu banyak spt Abdurrahman bin Auf untuk kepentingan
umat, memberi sedikit saja rejeki kita sekedar untuk sedekah dan infaq rasanya
berat, sedangkan  kenyataan saat ini begitu banyak harta yg bukan haknya di rampas untuk kepentingan pribadi hanya
karena kekuasaan yg memungkinkan untuk merampas.

Jangankan untuk pergi ke medan perang untuk berjihad melawan para musuh Allah, bersikap protes dengan lisan saat melihat kemaksiatan ataupun kedzoliman saja, rasanya mulut
tertutup rapat, bahkan dengan dalih kebersamaan dan keberagamaan ikut andil dan
bahu membahu menghujat dan menistakaan agama hanya karena mengharap imbalan
materi atau sekedar takut ditinggalkan kelompok dan sahabat.

Ya Rabb..gimana lagi caranya kami memasuki syurgaMu dengan keadaan saat ini, bila salah satu sahabat tercinta RasulMu pun harus memasuki syurga dengan merangkak. Sedih
rasanya, tipis kemungkinan untuk memasuki syurga bila membandingkan dengan
perjuangan para sahabat, hingga akhirnya ada setitik harapan untuk menggapai
itu semua, dengan sabda Rasul yg berbunyi bahwa Allah akan mengumpulkan orang2
bersama dengan orang2 yg dicintainya. Dan Sabda Rasul yg lain yg pernah
dikatakan oleh para sahabat saat itu “tahukah kalian orang yg paling dekat
dgnku nanti di syurga?yaitu yg mencintaiku dan membelaku walau dia tidak pernah
melihatku” Subhannallah..rasanya ada setitik harapan untuk menggapai itu semua,
hanya karena rasa cinta yg tulus dan begitu besar terhadap Rasulullah, dan
membela agama Allah maka niscaya Allah akan membela orang2 yg membela agamaNya.
Niscaya Allah tidak akan mentelantarkan hamba2Nya yg ikhlas berjuang di
jalanNya, karena janji Allah adalah benar dan keputusan Allah tidak pernah
menyalahi janjiNya.

Saat ini tugas kita adalah sanggupkah kita menanamkan rasa cinta terhadap Allah dan RasulNYa dalam hati kita dan keluarga kita?hingga ada rasa takut dan harap hanya
padaNya?ikhlas dan ridho menerima semua ketentuanNya. Sanggupkah saat ini kita
timbulkan rasa cinta dan sayang kita kepada Rasul dan Sahabat di tengah rasa
kecintaan mayoritas umat saat ini terhadap bintang film dan artis idolanya?
Hingga Alllah mau mengumpulkan kita dengan Rasul dan Sahabat kelak di
syurgaNya.

Rabb..jika usaha kami untuk menyaingi perjuangan para Sahabat rasanya tidak mungkin bisa kami tandingi, namun berikan kemampuan kami untuk mencintaiMu dan mencintai orang2
yg mencintaiMu agar Engkau mengumpulkan kami dengan orang2 yg Engkaupun
mencintainya.  Dan jadikanlah kami Ridho akan diriMu dan Engkaupun Ridho akan diri kami. Amin..

  1. 17 Maret 2009 pukul 6:51 am

    Ikut merenung…😦
    Semoga di beri petuunjuk oleh Ilahi Rabbi…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: