Hikmah dibalik Larangan Riba

Tahukah anda apakah riba itu? Mungkin mendengar istilahnya sudah tidak asing lagi. Tapi bagaimana Islam memandang   riba (bunga)?.. Islam memandang riba sebagai suatu kejahatan ekonomi yang menimbulkan penderitaan bagi masyarakat baik itu secara ekonomis, sosial maupun moral. Riba adalah aktivitas yang diharamkan dalam Islam. Secara bahasa ia bermakna “Ziyadah” artinya tambah. Menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Apakah bunga pinjaman dapat disebut sebagai riba? Menurut Afzalur Rahman (1995), sesuatu dikatakan riba apabila mengandung tiga unsur:

  • Biaya atau kelebihan atas modal pinjaman
  • Ketentuan besarnya tambahan dikaitkan dengan jangka waktu
  • Tawar menawar mengenai syarat pembayaran tentang besarnya kelebihan uang dilakukan kepada kreditur.

Atas dasar pengertian di atas, maka bunga atas pinjaman termasuk riba. Fatwa MUI pada akhir tahun 2002 menyatakan bahwa bunga bank (konvensional) adalah haram.

Hikmah dibalik Larangan Riba

  1. Allah SWT tidak mengharamkan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi manusia, tetapi hanya mengharamkan apa yang sekiranya dapat membawa kerusakan baik individu maupun masyarakat.
  2. Cara riba merupakan jalan usaha yang tidak sehat, karena keuntungan yang di peroleh si pemilik dana bukan merupakan hasil pekerjaan atau jerih payahnya. Keuntungannya diperoleh dengan cara memeras tenaga orang lain yang pada dasarnya lebih lemah dari padanya.
  3. Riba dapat menyebabkan krisis akhlak dan rohani. Orang yang meribakan uang atau barang akan kehilangan rasa sosialnya, egois.
  4. Riba dapat menimbulkan kemalasan bekerja, hidup dari mengambil harta orang lain yang lemah. Cukup duduk di atas meja, orang lain yang memeras keringatnya.
  5. Riba dapat mengakibatkan kehancuran, banyak orang-orang yang kehilangan harta benda dan akhirnya menjadi fakir miskin.
  1. 28 Maret 2013 pukul 2:20 am

    Does your website have a contact page? I’m having problems locating it but, I’d
    like to send you an e-mail. I’ve got some suggestions for your blog you might be interested in hearing. Either way, great website and I look forward to seeing it improve over time.

  2. 25 Januari 2013 pukul 4:32 pm

    Hi, it is pleasant article concerning press print, we all know media is a great
    supply of information.

  3. 21 Januari 2013 pukul 3:12 am

    Thank you for sharing your info. I really appreciate your efforts and I am waiting for your next post thanks
    once again.

  4. 30 Juni 2012 pukul 7:36 pm

    Everyone loves what you guys are usually up too. Such clever work
    and exposure! Keep up the good works guys I’ve added you guys to blogroll.

  5. 17 Mei 2009 pukul 6:11 am

    bicara soal riba, ga bisa lepas dengan konsep ekonomi Islam. Menurut MUI, bunga bank memang riba. Bagaimana dengan “margin keuntungan” dalam praktik murabahah di perbankan syariah, apakah ini juga bukan riba? menurut saya kok sama dengan riba, karena:
    1. Biaya atau kelebihan atas modal pinjaman
    2. Ketentuan besarnya tambahan dikaitkan dengan jangka waktu
    3. Tawar menawar mengenai syarat pembayaran tentang besarnya kelebihan uang dilakukan kepada kreditur.

    so, what is different between them?

  6. 2 Mei 2009 pukul 9:38 pm

    paling gampang sih kita minta ke-ikhlas-an pembeli atas untung yang diperoleh.

    gitu kata guru ngaji gw.😀 btw, salam kenal… thx udah maen ke blog gw

    • Mustaqim
      22 Februari 2012 pukul 4:23 pm

      murabahah dalam perbankan syariah adalah salah satu jual beli dg tambahan margin keuntungan…..
      nah,kalaw orang dagang otomatis ingin mencari keuntungan.
      tetapi dalam murabahah bank harus memberitahu harga awal barang tersebut kepada nasabah sehingga tidak terjadi gharar.serta terjadi akad antara keduanya dg asas suka sama suka seperti yg di jelaskan dalam Al Qura’an tentang jual beli…
      nah skarang udah jelaskn,,,,,:D

  7. 2 Mei 2009 pukul 4:35 pm

    Ya Mas…

    Yang kacau itu sistem dari koperasi yang notabene dikatakan sebagai usaha yang paling tepat sesuai dengan budaya historis bangsa Indonesia, ternyata juga adalah RIBA kan..(Lihat saja koperasi simpan pinjam yang sampai sekarang masih diminati oleh banyak warga kita)

  8. 26 April 2009 pukul 3:14 pm

    masa seichhhhh… ya iyalah.. masa ya iya donk… he..he..he.. riba dah jelas larangannya dalam islam.. tapi sebenarnya bukan oleh islam saja tapi agama lain pun mencela riba..

  9. 26 April 2009 pukul 11:51 am

    “Riba dapat mengakibatkan kehancuran, banyak orang-orang yang kehilangan harta benda dan akhirnya menjadi fakir miskin.” *masa siehhh???*

  10. 26 April 2009 pukul 6:28 am

    benar !! walau mayoritas penduduk indonesia muslim tapi masalah perekonomiannya masih berkiblat ke ekonomi berbasis riba.. tapi sekarang sudah mulai ada solusinya dengan keberadaan bank syariah dan beberapa sistem perekonomian dengan berbasis syariah

  11. 26 April 2009 pukul 5:35 am

    Setuju soal ini. Hanya, pada taraf tertentu masih sulit mengihindari riba. Terutama lantaran sistem ekonomi/perbankan dan sejenis itu yang belum semuanya menepiskan riba.

  12. 24 April 2009 pukul 5:04 pm

    wah salut nich wawasan mas soal riba-pun luar biasa sampe hafal dengan hadits-haditsnya.. terima kasih atas tambahan materi-nya mudah2an dapat bermanfaat bagi yang membaca

  13. guskar
    24 April 2009 pukul 3:32 pm

    Tambahan : beberapa lagi bahaya riba terhadap pribadi dan masyarakat
    Riba bisa dikatakan sebagai bentuk maksiat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, Nabi SAW : “Setiap umatku dijamin masuk surga kecuali yang enggan”. Para shahabat bertanya, “Siapa yang enggan masuk surga wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa yang ta’at kepadaku pasti masuk
    surga dan barangsiapa yang berbuat maksiat (tidak ta’at) kepadaku itulah orang yang enggan (masuk surga)”. (HR Bukhari)
    Ibadah haji, shadaqah dan infak dalam bentuk apapun tidak diterima oleh Allah SWT kalau berasal dari hasil riba, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits : “Sesunguhnya Allah itu baik dan Dia tidak menerima kecuali dari hasil yang baik”.
    Allah SWT tidak mengabulkan doa orang yang memakan riba, Rasulullah SAW bersabda, “Ada seorang yang menengadahkan tangannya ke langit berdo’a, “Ya Rabbi, Ya Rabbi, sementara makanannya haram, pakaiannya haram, dan daging yang tumbuh dari hasil yang haram, maka bagaimana mungkin do’anya dikabulkan.” (HR.Muslim)
    Hilangnya keberkahan umur dan membuat pelakunya melarat, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang memperbanyak harta kekayaan dari hasil riba, melainkan berakibat pada kebangkrutan dan melarat.” (HR.Ibnu Majah).
    Sistem riba menjadi sebab utama kebangkrutan negara dan bangsa. Realita menjadi saksi bahwa negara kita ini mengalami krisis ekonomi dan keamanannya tidak stabil karena menerapkan sistim riba, karena para petualang riba memindahkan simpanan kekayaan mereka ke negara-negara yang
    memiliki ekonomi kuat untuk memperoleh bunga ribawi tanpa memikirkan maslahat di dalam negeri sendiri, sehingga negara ini bangkrut.
    Pengembangan keuangan dan ekonomi dengan sistem riba merupakan penjajahan ekonomi secara sistimatis dan terselubung oleh negara-negara pemilik modal, dengan cara pemberian pinjaman lunak. Dan karena merasa berjasa menolong negara-negara berkembang, maka dengan kebijakan-kebijakan tertentu mereka mendikte negara yang dibantu tersebut atau mereka akan
    mencabut bantuannya.
    Riba merupakan bentuk kezhaliman yang menyengsarakan orang lain, dengan cara menghisap
    “darah dan keringat” pihak peminjam, itulah yang disebut rentenir atau lintah darat.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: