Beranda > informasi > Menelusuri Jejak Lava Gunung Pra-Sunda

Menelusuri Jejak Lava Gunung Pra-Sunda

Gunung Pra Sunda

Menelusuri jejak-jejak lava gunung berapi di Cekungan Bandung adalah perjalanan yang tiada habisnya. Setiap jajaran bebatuan yang melingkar adalah sejarah. Sejarah itu mengisahkan hikayat alam serta keindahannya. Namun, jejak-jejak lava sekaligus juga menjadi saksi betapa jahilnya campur tangan manusia.
Dalam perjalanan wisata bersama Mahanagari, perusahaan di bidang jasa wisata edukasi, dua pekan lalu, Kompas berkesempatan menyaksikan sisa-sisa lava gunung api Pra-Sunda yang diperkirakan meletus 560.000-500.000 tahun lalu. Letusan itu memuntahkan lava dengan suhu mencapai 1.000 derajat celcius.
Lava Gunung Pra-Sunda, yang oleh ahli geografi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) T Bachtiar dinamai Gunung Jayagiri, itu mengalir di sepanjang lintasan Sungai Beureum (Cibeureum). Cibeureum menjadi sungai pembatas antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Panjang lintasan lava itu lebih dari 17 kilometer.
“Lava-lava ini menjadi bukti keberadaan gunung berapi sebelum Gunung Sunda yang menjadi induk Gunung Tangkubanparahu,” ujar Bachtiar. Gunung Pra-Sunda itu juga melahirkan gunung-gunung lain di Cekungan Bandung, seperti Gunung Burangrang.
Penelusuran jejak lava itu dimulai dengan melewati perkampungan padat penduduk di belakang UPI, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Rumah-rumah penduduk sekitar dibangun mengikuti kontur tanah yang menurun, menyerupai lembah.

Curug Sigay
Sekitar 1 kilometer perjalanan, jejak lava Gunung Pra-Sunda mulai terlihat. Sebuah air terjun alami (curug) dengan ketinggian sekitar 7 meter mengalir di sela-sela bebatuan. Bebatuan itu adalah lava Gunung Pra-Sunda yang telah mendingin.
“Lava panas yang padat dan bercampur tanah akhirnya mendingin ketika bertemu dengan aliran sungai. Dalam batasan waktu jam hingga ribuan tahun, lava-lava yang mendingin itu mengeras dan menjadi batu,” ujar Bachtiar yang memandu tur wisata tersebut.

“Air di Bandung semestinya adalah air terbaik dan tersehat karena banyak ditemui curug di sini. Saat air melintasi curug, terjadi proses aeration atau pemberian oksigen pada air dan pelepasan partikel yang tidak berguna. Dampaknya, air menjadi lebih jernih dan kandungan oksigennya lebih tinggi,” kata Bachtiar.
Namun, keberadaan curug-curug di Bandung kini harus bersaing dengan limbah pabrik dan sampah rumah tangga yang jumlahnya berton-ton setiap hari. Anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, Sobirin, mencatat, sampah warga Kota Bandung seberat 2.000 gajah setiap harinya.
Tidak berhenti di Cibeureum, jejak lava Gunung Pra-Sunda masih bisa ditemui hingga perbatasan dengan wilayah Cihideung, Lembang. Dinding lava membentang di sepanjang jalan.
“Menelusuri jejak lava sebenarnya bukan hanya untuk wisata. Namun, sebenarnya kita belajar memahami tindakan alam. Ketika gunung kembali meletus, kita bisa mengetahui jalur-jalur mana yang akan dilintasi lava. Ini juga semacam pendidikan mitigasi bencana,” ujar Bachtiar.

Kisah Cibeureum dan Cihideung
Penamaan sungai di Kota Bandung sesungguhnya terkait erat dengan sejarah gunung berapi di kawasan ini. Nama Cibeureum dan Cihideung, yakni dua sungai yang membatasi Kota Bandung dengan Kabupaten Bandung Barat, juga tak lepas dari sejarah letusan gunung api Pra-Sunda. Sungai dalam bahasa Sunda disebut dengan ci. Cibeureum berarti sungai yang airnya berwarna merah karena beureum dalam bahasa Indonesia berarti merah. Cihideung adalah sungai yang airnya berwarna hitam karena hideung dalam bahasa Indonesia berarti hitam. Pakar geografi dari Universitas Pendidikan Indonesia T Bachtiar menjelaskan, sesungguhnya yang berwarna merah dan hitam itu bukan air sungai. Merah dan hitam adalah warna dasar sungai yang terbentuk akibat aliran lava gunung berapi.
“Material vulkanik yang melintasi Cibeureum dominan berwarna merah sehingga ketika mendingin menimbulkan warna kemerahan pada dasar sungai. Cihideung didominasi material vulkanik berwarna hitam. Akibatnya, dasar sungai berwarna kehitaman,” katanya.
Dahulu masyarakat sekitar tidak memahami hal ini sehingga mereka mengira air sungai berwarna merah dan hitam. Namun, kini masyarakat barangkali tidak bisa lagi membedakan mana aliran Cibeureum dan Cihideung. Kedua sungai itu sekarang berwarna kecoklatan karena sampah dan limbah. Merah dan hitamnya kedua sungai itu kini sekadar kisah.

Kategori:informasi
  1. 2 Agustus 2013 pukul 5:35 pm

    What’s up, always i used to check webpage posts here early in the daylight, as i love to learn more and more.

  2. 19 Juli 2013 pukul 1:03 pm

    I like it whenever people get together and share ideas.
    Great website, continue the good work!

  3. 30 Juni 2013 pukul 12:16 am

    I do not know if it’s just me or if everybody else encountering issues with your website. It appears as though some of the written text within your content are running off the screen. Can somebody else please provide feedback and let me know if this is happening to them as well? This might be a problem with my web browser because I’ve had this happen before.
    Many thanks

  4. 28 Juni 2013 pukul 4:00 am

    What’s up it’s me, I am also visiting this site daily, this site is
    really pleasant and the people are truly sharing good thoughts.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: